Electrical

July 3, 2011

Advertisements

Kontrak Unit Price (Kontrak Harga Satuan)

July 3, 2011
Secara umum, Kontrak Unit Price adalah kontrak di mana volume pekerjaan yang tercantum dalam kontrak hanya merupakan perkiraan dan akan diukur ulang untuk menentukan volume pekerjaan yang benar-benar dilaksanakan, atau dalam bahasa Inggris: “A Unit Price Contract is a contract where the Bill of Quantity is subject to remeasurement”.
Peraturan Pemerintah (PP) No. 29/2000 Pasal 21 ayat (2) mengatakan: “Kontrak kerja konstruksi dengan bentuk imbalan Harga Satuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (3) huruf a angka 2 merupakan kontrak jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam jangka waktu tertentu berdasarkan harga satuan yang pasti dan tetap untuk setiap satuan/unsur pekerjaan dengan spesifikasi teknis tertentu yang volume pekerjaannya didasarkan pada hasil pengukuran bersama atas volume pekerjaan yang benar-benar telah dilaksanakan Penyedia Jasa”.
Selanjutnya dalam penjelasan ayat ini tertulis:
“Pada pekerjaan dengan bentuk imbalan harga satuan, dalam hal terjadi pembetulan perhitungan perincian harga penawaran dikarenakan adanya kesalahan aritmatik, harga penawaran total dapat berubah, akan tetapi harga satuan tidak boleh diubah. Koreksi aritmatik hanya boleh dilakukan pada perkalian antara volume dengan harga satuan. Semua risiko akibat perubahan karena adanya koreksi aritmatik menjadi tanggung jawab awab sepenuhnya Penyedia Jasa. Penetapan pemenang lelang berdasarkan harga penawaran terkoreksi. Selanjutnya harga penawaran terkoreksi menjadi harga kontrak (nilai pekerjaan). Harga Satuan juga menganut prinsip lump sum”.
Robert D. Gilbreath dalam bukunya Managing Construction Contracts, halaman 44-45, menulis tentang kontrak unit price sebagai berikut (terjemahan bebas Penulis):
“Harga Satuan
Kontrak Harga Satuan menggambarkan variasi dari kontrak lump sum. Mengingat lump sum meliputi satu harga pasti/tetap untuk semua atau beberapa bagian pekerjaan, harga satuan hanya mengatur harga satuan. Total nilai kontrak ditetapkan dengan mengalikan harga satuan dengan volume pekerjaan yang dilaksanakan.
Sebagai contoh, pengecoran beton dengan harga satuan US$ 60 per m3 sudah terpasang. Jika 1.000 myang dicor, total harga kontrak menjadi US$ 60.000. Risiko Pengguna jasa dengan sistem harga satuan termasuk sebagian besar yang terdapat dalam kontrak lump sum. Di samping itu, kontrak harga satuan menuntut pemantauan ketat dan verifikasi terhadap jumlah satuan sesungguhnya. Menelusuri berapa banyak yang ditambah, dikurangi, dipasang atau dibongkar benar-benar merupakan suatu pekerjaan yang harus dikerjakan secara sungguh-sungguh”.
Mc Neil Stokes dalam bukunya Construction Law in Contractor’s Language, halaman 34-35, menulis mengenai kontrak unit price sebagai berikut (terjemahan bebas Penulis):
“Kontrak Harga Satuan
Dalam kontrak harga satuan, Penyedia Jasa dibayar suatu jumlah yang pasti untuk setiap satuan pekerjaan yang dilaksanakan. Untuk menghindarl sengketa mengenal berapa pekerjaan yang sesungguhnya dilaksanakan, setiap satuan pekerjaan harus ditentukan dengan tepat.
Dalam menggunakan metode harga satuan, Pengguna Jasa memperkirakan risiko atas jumlah pekerjaan yang akan dilaksanakan; termasuk perkiraan risiko pekerjaan yang dibuat Pengguna Jasa atau Perencana (Arsitek). Perkiraan ini, meskipun baru perkiraan harus akurat dan oleh karena itu total biaya konstruksi dapat diperkirakan dengan tepat.
Penyedia Jasa menanggung risiko kenalkan harga satuan yang tercantum dalam kontrak. Apabila Penyedia Jasa mengajukan penawaran atas dasar satuan pekerjaan, dia mendasarkan harganya atas biaya melaksanakan jumlah pekerjaan yang diantisipasi. Jika selama masa pelaksanaan pekerjaan jumlah pekerjaan tersebut banyak sekali berkurang, maka biaya per satuan pekerjaan biasanya akan lebih besar daripada yang diperkirakan. Sebaliknya, jika jumlah satuan pekerjaan tersebut banyak sekali bertambah, maka harga satuan yang dikerjakan dapat turun, sehingga harga satuan asli menjadi tinggi. Ini tak adil”.
Dari uralan di atas dapatlah disimpulkan bahwa bentuk kontrak harga satuan tidak mengandung risiko Pengguna Jasa membayar lebih karena volume pekerjaan yang tercantum dalam kontrak lebih besar daripada kenyataan sesungguhnya sehingga Penyedia Jasa mendapat keuntungan tak terduga.
Sebaliknya, Penyedia Jasa juga tidak menanggung risiko rugi apabila volume pekerjaan sesungguhnya lebih besar daripada yang tercantum dalam kontrak karena yang dibayarkan kepada Penyedia Jasa adalah pekerjaan yang benar-benar dilaksanakan.
Yang menjadi masalah dalam bentuk kontrak semacam ini adalah banyaknya pekerjaan pengukuran ulang yang harus dilakukan bersama antara Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa untuk menetapkan volume pekerjaan yang benar-benar terlaksana.
Adanya opname hasil pekerjaan secara bersama-sama ini menimbulkan peluang kolusi antara petugas Pengguna Jasa dan petugas Penyedia Jasa. Di samping itu, hal ini akan merepotkan Pengguna Jasa karena harus menyediakan tenaga dan biaya untuk melakukan pengukuran ulang (remeasurement).
Barangkali inilah salah satu pertimbangan mengapa Pengguna Jasa, baik Pemerintah maupun sektor swasta, lebih suka memilih bentuk kontrak fixed lump sum price. Namun mungkin saja kedua bentuk kontrak ini digabungkan. Hal ini secara hukum dapat dibenarkan karena PP No. 29/ 2000 Pasal 20 ayat (3) huruf a angka 4 dan Pasal 21 ayat (4) mengatur hal ini. Secara teknis hal ini tak terhindarkan karena dalam suatu pekerjaan/ proyek besar yang kompleks mungkin saja beberapa bagian pekerjaan belum dapat ditentukan volumenya pada awalnya sehingga untuk pekerjaan ini diberlakukan bentuk harga satuan.

Sumber: Buku “Mengenal Kontrak Konstruksi di Indonesia” – Ir. Nazarkhan Yasin.Kontrak Unit Price


PLC (Programmable Logic Controller)

July 3, 2011


6 Reasons People Choose Automation

July 3, 2011
Here are a few of the reasons why many people choose to automate:
  1. Greater Productivity = Greater Profit: Automated software helps you to increase your productivity, and therefore to increase your profit. Automation can do a single task easily and quickly without the high risk of error that human employees or less advanced systems have. Plus, you won’t be spending a ton of money paying for manpower. Just make sure you choose a good, reliable software to avoid doing yourself more harm than good. GE Fanuc is currently one of the top rated automation software programs around, but do your research and choose the one that’s right for you.
  2. No More Defective Products: Not only does automated software guarantee an error free job, but it also alerts you to any defective products and stops manufacturing when a defect is detected. This can save you wasted time and wasted supplies.
  3. You Choose the Job: At any time, you have the power to program the automation software to begin a specific task. All you have to do is run the program, and the work you need will get started right away. You can even set up your software to perform certain tasks at a set time each day.
  4. No Whining: Unlike humans that can get easily bored (and unproductive!) because they are doing the same thing over and over again, automation systems can do the entire task for you without complaints. You can be sure that you will be using it for a long period of time.
  5. Jobs Done Correctly and Constantly: When you use an automation system, you’ll have the comfort and security of knowing that the entire task you’ve requested is being done correctly and constantly. You won’t have to worry whether or not one of your employees is slacking off or doing the job incorrectly
  6. More Money in Your Pocket: Automation systems can help you save a lot of money. Although you have to pay a hefty sum for the installation of the automation system, you can still gain that money again—plus some– because you won’t have to pay for labor, cost, or employee training. Plus, your profit will increase because of the greater productivity.

Bridge Design

July 3, 2011


Steel Structure Constructions

July 3, 2011


Construction Contracts 3

July 3, 2011

Construction Contracts

Kontrak Konstruksi (3)

Concern on Construction Contracts

Concern for both Service Provider and User Services to the construction contract is very low. Usually the contract recording made in large quantities (sometimes more than 10 copies). Any agency that is not necessarily relevant to the contract each gets a copy.

But let alone read, perhaps never opened it, until the contract expires. The book contract just to be on display in a cabinet. The new contracts come to be seen if problems arise. Problem solving becomes obstructed because of the need quite a long time to understand the contents of the contract.

Contract Administration 

Because of concern for the contract is very low, then the administrative management of the contract does not run properly. Officers are definitive and specific professional and contract process does not exist. That there is usually the officer who serves another task and most do not qualify as a contract administrator.

Construction Contract Claims

Until 1997 almost unheard of any Service Provider who filed a claim construction. This may be due to the Servicer afraid to make a claim. Claims are considered taboo because of misconceptions. Claims considered the demands, but the real meaning no more than a request. True, the claim can be turned into a claim or lawsuit if the claims were not met.

What emerged is a new claims of foreign companies operating in Indonesia.The writer heard of a single industrial construction services company originated in France known as the experts claim that given the nickname “Claim Artist” won the tender center of hydroelectric generating large in West Java at a cost of millions of dollars. As soon as he was preparing expert claims, the claims put forward nearly approaching the value of the contract and prove his claim is received and paid. Maybe that is why at the time of the tender the company bid a low price (because from the beginning he has seen an enormous opportunity claims.)Kontrak Konstruksi



%d bloggers like this: